Semalam saya bertemu dengan mamanya. Pertama kali sejak saya
bertemu dengan beliau lima tahun silam. Waktu itu saya menghabiskan
liburan di rumah Arya medio Oktober 2007. Saya sendiri sebenarnya
surprise, pun Arya, karena memang sama-sama tidak mengetahui mamanya
akan datang ke Jakarta.
Senang rasanya, bahwa jeda hampir lima tahun lebih itu dan beliau
masih ingat dengan saya. Hahaha… mungkin Arya sendiri lupa kalau ibunya
pernah bertemu dengan saya. Iya, Arya memang kadang-kadang pelupa sih.
Tentu saya menghormatinya seperti kepada Ibu saya sendiri. Saya lebih
suka memanggilnya dengan “Ibuk”, sama halnya beliau yang membahasakan
dirinya ketika mengobrol dengan saya diawali dengan, “Ibuk…”
Ah, tiba-tiba saya rindu dengan ibu yang ada di Magelang. Saya
sendiri merasakan ada kedekatan hati ketika mengobrol santai dengan
beliau. Iya, seperti sedang mendengar ibu menasihati saya.
Ada kata-kata dari mama Arya yang begitu menempel di kepala saya.
Membuat saya terdiam lalu beberapa kali merasakan haru. Barangkali
memang benar, kedekatan hati seorang ibu dengan anaknya jauh lebih kuat.
Beliau berkata begini, “Edo sudah lama kan pisah dari Arya, tapi kalian
ini masih bisa tetap dekat dan saling mencari. Sama-sama anak rantau,
dijaga ya. Apalagi kalau dua-duanya sudah cocok dari hati.”
Saya mengerti sekali maksudnya. Tujuh tahun kami berdua bersahabat.
Tujuh tahun jatuh dan bangun, tidak sedikit konflik yang terjadi, tetapi
pada akhirnya kami berdua dibawa untuk terus melangkah bersama. Tujuh
tahun proses membawa kami dari seorang yang awalnya tidak saling
mengenal lalu bertumbuh menjadi sepasang sahabat, hingga akhirnya rasa
sayang itu semakin nyata.
Tujuh tahun ke belakang membuat saya tersadar kembali hari ini. Bahwa
apa yang selama ini saya cari, telah saya temukan di diri Arya. Seperti
menemukan kembali keutuhan diri ketika bersama-sama dengannya. Arya
bukan sosok yang terlalu banyak bicara mengenai hati. Namun, saya tahu
hati kami berdua telah sama-sama terikat sejak lama. Sorot matanya
selalu membuat saya terharu, ada kedalaman perasaan yang bisa saya
tangkap di sana. Dia tahu, saya mencintai dan menyayanginya.
Kami, saya ataupun Arya, tak pernah dan bahkan jarang sekali bilang “
I love you”
semacam itu. Saya lebih suka menunjukkan sikap. Pun dengannya. Saya
lebih suka memeluknya dari belakang ketika dalam perjalanan. Menatap
matanya lekat-lekat, yang seringnya malah saya sendiri malu ketika
beradu tatap dengannya. Hahaha… iya, saya jatuh cinta berkali-kali. Hal
yang sama dia lakukan untuk saya. Misalnya kemarin, tiba-tiba saja dia
memberi saya sepasang kaos kaki. Dia hanya bilang, “ini kamu pakai aja…
yang ini buat aku.” Duh, walaupun hanya kaos kaki, tetapi buat saya
perhatiannya tetap paling utama. Kok dia seperti tahu saya memang perlu
kaos kaki kemarin. Hahaha… lagi-lagi, saya tidak percaya dengan namanya
kebetulan. Hal-hal semacam ini yang membuat kami bertumbuh lebih dekat
dan semakin dekat. Kami mengetahui apa yang salah satu perlu tanpa harus
mengutarakan maksudnya lebih dulu.
Akhirnya kami menghabiskan waktu dengan mengobrol semalam, lalu pergi
ke sebuah mall tak jauh dari kost. Jalan-jalan sembari kami membeli
makan malam. Menyenangkan, bahwa saya seperti menjadi bagian dari
keluarganya. Saya lebih sering menemani mamanya ngobrol karena Arya
sudah jalan duluan. Hahaha… kadang-kadang jalannya terlalu cepat. Lalu
saya seketika ingin membingkai kebersamaan yang dilalui semalam untuk
terus disimpan sebagai kenangan di hati saya.
Karena seberapa jauh pun saya pergi dan berlari, pada akhirnya saya
dan Arya tetap saling mencari hingga suatu ketika kami dipertemukan. Dan
saya bersyukur karena diperkenankan bertemu dan menjalin cerita
dengannya…
Terimakasih, dan saya mencintaimu…